Wednesday, 3 November 2010

Meraih Masa Depan di Perguruan Tinggi (Suatu Kajian Psikologis)

Andik Matulessy

Diberikan dalam Diskusi Siswa-Siswi SMUTAG Surabaya,7 April 2006


Pendahuluan

Alkisah, John F. Kennedy setelah dilantik menjadi Presiden termuda di USA ditanya oleh wartawan tentang hal yang paling berkesan dalam kehidupannya. Jawaban yang diberikan sangat mencengangkan bagi semua orang, dia menyatakan saat menjadi mahasiswalah yang merupakan saat-saat menyenangkan bagi dirinya. Orang banyak berfikir bahwa saat dilantik menjadi Presiden termudalah saat yang paling menyenangkan baginya. Hal ini menjadi tanda tanya yang besar kenapa begitu menyenangkan menjadi seorang mahasiswa. Selain sebutan �maha� yang dilabelkan kepada mereka, kebebasan dan ketidakterikatan pada �penyeragaman� membuat mereka lebih mampu mengekspresikan diri.

Pernyataan di atas memang tidak sepenuhnya benar, karena Pendidikan Tinggi tidak hanya memberikan ruang gerak kebebasan berekspresi saja, namun demikian ada tuntutan untuk berfikir ilmiah, karena menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi berarti masuk pada komunitas ilmiah yang dituntut untuk memberikan pandangan atau mengkritisi sesuatu dengan dasar atau pijakan ilmiah, tidak hanya berdasarkan emosionalitas.

Oleh karena itu belajar di Perguruan Tinggi berarti mengajak kita untuk lebih bijak dalam menganalisis berbagai fenomena di sekitar kita, selain itu membiasakan diri untuk selalu terbuka pada verifikasi atau kritik. Sebagai mahasiswa seharusnya tidak lagi bersikap seperti robot, yang senantiasa menunggu �perintah� untuk mengejawantahkan materi kuliah yang diberikan oleh para dosennya. Kegiatan perkuliahan tidak lagi kaku, komunikasi searah, tanpa diskusi panjang, tanpa ada adu argumentasi di antara mahasiswa itu sendiri atau mahasiswa dengan dosen. Setiap mahasiswa harus aktif mengkonfirmasi atau mencari tahu lebih banyak tentang materi perkuliahan, tidak selalu patuh pada informasi yang diberikan atau terbelenggu kekritisannya oleh sikap otoritasn dosen. Selain itu daya kritis mahasiswa tidak hanya terbatas wacana sederhana tapi harus didasari oleh pijakan ilmiah yang didapatkan dari pemahaman berbagai sumber bacaan atau hasil penelitian terkini yang banyak dituliskan pada berbagai jurnal ilmiah. Hal tersebut karena salah satu cara mendapatkan kompetensi sebagai lulusan perguruan tinggi yang ideal adalah kegairahan kita untuk menelusuri berbagai tulisan atau deskripsi ilmiah sebagai bentuk dari keanggotaan seseorang pada lingkup komunitas ilmiah.

Bagaimanapun juga mahasiswa merupakan menjadi tulang punggung negara dan melanjutkan estafet kepemimpinan di masa-masa mendatang. Artinya seperti apa nantinya sebuah Negara tidak bisa lepas dari kreativitas pemikiran para mahasiswa. Kelompok mahasiswa dalam kehidupan sosial mendapatkan stratifikasi tempat dan peran yang teramat penting sebagai kelompok pemikir elit. Kepada merekalah sebenarnya masa depan suatu bangsa amat ditentukan apakah bergulir menuju kebobrokan ataukah menuju kecerahan. Hal tersebut karena mahasiswa memiliki berbagai fungsi strategis sebagai agent of change, transfer of knowledge, transfer of ideology, indicator of national or political stability, agent of globalization, dan human transformer. Sebuah survey yang dilakukan di Yogyakarta terhadap 200 mahasiswa sekitar bulan Mei 2004 yang menemukan bahwa sekitar 70 % mahasiswa masih yakin bahwa mereka adalah kekuatan akan perubahan (agent of change). Oleh karena itu peran yang penting inilah yang seharusnya menjadi tuntutan pada mahasiswa untuk mengoptimalkan kompetensi pada dirinya.

Hal ini semakin penting bila dikaitkan dengan pengajaran di lembaga pendidikan tinggi yang tentunya harus mengedepankan output dan outcome yang memiliki kompetensi yang diharapkan sesuai dengan disiplin ilmunya. Artinya perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan produk lulusan yang kompeten, namun mampu diserap oleh masyarakat pengguna lulusan, baik dalam tataran organisasi birokrasi pemerintahan, sipil atau militer, perusahaan swasta ataupun negeri, maupun organisasi kemasyarakatan yang lain.

Apalagi terjangan globalisasi membuat situasi menjadi semakin kompetitif dan global, sehingga pendidikan tinggi dianggap menjadi sarang untuk meningkatkan syarat kompetensi bagi seseorang. Ditambah lagi keberadaan seseorang yang tidak lagi terbatas pada satu negara saja, tetapi melintas ke beberapa negara lain, maka membutuhkan kompetensi yang semakin detail dan kompleks.

Oleh karena kondisi seperti di atas perlu mendapatkan respon dari para siswa untuk segera membuat pilihan pada Perguruan Tinggi. Memang pilihan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi bukanlah satu-satunya jawaban bagi siswa untuk mengembangkan dirinya, ada berbagai pilihan lain misalnya langsung mencari kerja. Namun demikian perlu disadari bahwa peningkatan penggangguran pada pendidikan menengah atas lebih banyak prosentasenya daripada mereka yang lulus dari perguruan tinggi. Berdasarkan review dari BPS tahun 2005 ada sekitar 3.911.502 lulusan SLTA yang menganggur dibandingkan lulusan perguruan tinggi yang hanya 385.418. Hal ini menunjukan bahwa pangsa pasar masih menganggap bahwa Perguruan Tinggi menjadi prasyarat utama untuk menerima calon karyawan mereka.

Namun demikian memilih perguruan tinggi harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, karena ada berbagai criteria sebuah Perguruan Tinggi berkualitas atau tidak. Banyak siswa mengadu nasib untuk meraih tempat di PTN, padahal patut disadari bahwa kapasitas PTN hanya bisa menampung 5% dari ribuan pelamar tes masuk PTN. Selain itu dengan adanya peraturan pemerintah tentang akreditasi, maka istilah PTN dan PTS menjadi sangat tidak signifikan untuk diperbandingkan. Hal tsb karena hasil akreditasi yang menentukan kualitas dan kompetensi lulusan Perguruan Tinggi bukan nama besar atau status swasta / negeri. Selain itu perlu juga untuk memperhatikan sustainability dari sebuah Perguruan Tinggi, yang dapat dilihat dari sarana / prasarana yang dimiliki, jenjang pendidikan dan kemampuan akademik staf pengajar dan disiplin dalam proses belajar mengajar. Jangan tergiur hanya dengan harga murah dan kelulusan kilat, karena nantinya tidak akan memberikan dampak positif yang signifikan pada peningkatan kompetensi seseorang.

Gambaran Mahasiswa Perguruan Tinggi

Mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi sangatlah bervariasi, baik dari segi motivasi dan latar belakang social ekonomi. Maman S. Mahayana (dalam Mahasiswa Menggugat, 1998) membagi menjadi 6 kategori mahasiswa :

1. Mahasiswa underdog, umumnya datang dari pedesaan, merasa tidak ada yang dibanggakan, berusaha menjadi mahasiswa yang baik, motivasinya tinggi untuk kuliah
2. Mahasiswa salon, datang dari kota dan keluarga berada, kuliah sekedar agar tidak menganggur, bersiap melanjutkan usaha orang tua, kampus sebagai tempat pamer kendaraan, tujuannya status mahasiswa bukan ilmu
3. Anak mamih, dari keluarga menengah atas, sungguh-sungguh kuliah tapi tidak peduli kegiatan non-akademis, tujuannya segera menyelesaikan dengan baik.
4. Mahasiswa jalan pintas, motivasinya hanya memperoleh gelar, sehingga menggunakan berbagai cara untuk mendapat nilai baik.
5. Mahasiswa pekerja, dari keluarga pas-pasan atau karyawan yang ingin merubah nasib, biasanya sungguh-sungguh mengikuti kuliah, sering juga mengikuti kegiatan kemahasiswaan.
6. Mahasiswa unggulan, berasal dari keluarga terpelajar, secara ekonomi dan intelektual bagus, sering memanfaatkan masa kuliah untuk menempa diri dengan berorganisasi atau kegiatan ilmiah lainnya.

Berbagai jenis mahasiswa inilah yang memunculkan konsekuensi sulitnya menemukan bahwa semua orang nantinya kompeten untuk mengikuti perkuliahan dan organisasi intrakurikuler di kampus. Oleh karena itu output dari Perguruan Tinggipun menjadi sangat bervariasi, ada yang sangat kompeten di bidangnya namun ada pula yang sangat tidak kompeten. Hal tersebut karena pencerapan materi, pembiasaan diri untuk berfikir kritis-rasional, memunculkan kreasi, melapangkan ranah kognitif, meningkatkan emotional quotient, adversity quotient, spiritual quotient, ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik untuk didapatkan pada saat seseorang berstatus sebagai mahasiswa.

Cara Meningkatkan Diri Sebagai Mahasiswa

Sebagaimana diketahui semua orang di dunia ini mempunyai kekuatan yang bersumber dari dirinya, namun seringkali masih dalam bentuk potensi. Banyak ahli Psikologi berpendapat bahwa setiap individu mampu mengembangkan dirinya dan mengubah menjadi lebih baik. Namun demikian, ternyata banyak juga yang merasa tidak mempunyai kelebihan, tak berguna dan sulit menapak pada kebutuhan puncak menurut Maslow yakni mencapai aktualisasi diri. Oleh karena itu banyak yang terhambat pengembangan dirinya dan membutuhkan tekanan internal dan eksternal tertentu agar berkembang dengan lebih baik. Robbins (dalam Santi, 2005) menyatakan bahwa perubahan seseorang (termasuk pengembangan diri) harus memiliki 3 keyakinan dasar dalam dirinya, yaitu : 1) ia mau berubah, 2) ia harus berubah, dan 3) ia dapat berubah. Berdasarkan pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengembangan diri individu memerlukan kesadaran dan motivasi untuk berubah, serta pengetahuan tentang cara-cara pengembangan diri.

Sejak dulu kala banyak orang bijak yang menyarankan untuk mengenali diri. Socrates terkenal dengan kata-katanya �cogito orgo sum� kenalilah dirimu, karena dengan cara mengenali diri maka diharapkan dapat menjalani kehidupan secara lebih efektif. Sun Tzu (400 SM) menjelaskan 3 dalil tentang pentingnya mengenal diri, yakni : a) jika kamu mengenal dirimu dan mengenal musuhmu, maka kamu sudah berada di ambang kemenangan, b) jika kamu mengenal dirimu, namun tidak mengenal musuhmu, maka peluang menang adalah sama besar, c) jika kamu tidak mengenal dirimu dan tidak mengenal musuhmu, maka kamu pasti akan kalah dalam setiap pertempuran (Koentjoro, 2005).

Pengenalan diri sangatlah penting, karena dengan mengenal diri maka akan memperoleh 5 manfaat penting kehidupan, yaitu : a) mengetahui kebutuhan hidup yang sesungguhnya, b) mengetahui kekurangan dan kelebihan diri, c) memanfaatkan kekurangan dan kelebihan untuk mencapai cita-cita, d) mampu mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan yang dilakukan pada masa lalu, dan kemudian digunakan sebagai modal dasar menempuh kehidupan yang lebih baik di masa mendatang, e) untuk merencanakan masa depan yang lebih terarah dengan kebenaran yang tinggi.

Bagaimana cara seseorang mengenal lebih baik dirinya ? Sebenarnya sudah sering seseorang melakukan pengenalan diri, namun pengenalan yang dilakukan tidak sistematis dan hanya menjawab problem hidup saat itu. Ada 3 cara untuk mengenal diri, yaitu : a) introspeksi yaitu melihat diri sendiri atau bercermin tentang diri sendiri. Kelemahan utamanya adalah diri yang didapat adalah diri subjektif menurut pandangan sendiri, b) meminta umpan balik orang lain, artinya meminta pendapat orang lain tentang diri sendiri. Kelemahannya adalah pendapat tersebut juga subjektif menurut si pemberi masukan, c) membaca dan memahami buku-buku orang bijak. Kelemahannya barangkali situasi dan kondisi kurang sesuai dengan diri sendiri.

Dengan berbagai cara tsb di atas diharapkan kita bisa merengkuh karakteristik kompetensi yang tidak mudah untuk dipelajari seperti halnya pengetahuan atau materi informasi pada ranah kognitif.

Tantangan Mahasiswa di Era Global

Di dalam era globalisasi yang menuntut kemampuan untuk berinteraksi dengan berbagai pihak dengan latar belakang yang berbeda, maka diperlukan kompetensi yang kompleks pula. Schneider dan Barsoux (2003) menetapkan beberapa kriteria kompetensi dari International Manager, yang diharapkan bisa untuk lebih meningkatkan diri bagi mahasiswa nantinya, antara lain :

1. Interpersonal skills, kemampuan membangun hubungan baik, menjalin pertemenan, building trust, serta mampu melakukan transfer knowledge pada kultur yang berebeda
2. Linguistic ability, kemampuan ini penting untuk meningkatkan kontak social yang lebih langgeng
3. Motivation to live abroad (cultural curiousity), menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan nilai-nilai kultur yang sama sekali berbeda
4. Tolerance for uncertainty & ambiguity, dalam interaksi dengan orang-orang yang berbeda budaya, maka kemampuan untuk bertoleransi dan melakukan coping pada situasi yang tidak menentu sangat lah penting
5. Flexibility, tidaklah mungkin mengharapkan kelangsungan kontak antar kultur apabila tidak ada kemampuan untuk selalu membuka diri terhadap perubahan
6. Patience & respect, berlaku sabar dan menghargai orang merupakan golden rule dalam bisnis internasional
7. Cultural emphaty, focused listening dan pendekatan yang tidak mudah untuk melakukan judgment pada orang lain menolong seorang manager untuk memahami cara berfikir orang lain
8. Strong sense of self (ego strength), kemampuan ini menunjukkan healthty narcism, yang nampak dari kemampuan untuk berinteraksi dengan nilai-nilai budaya lain tanpa ketakutan kehilangan identitas dirinya. Termasuk pada kompetensi ini adalah kemampuan untuk selalu terbuka terhadap kritik dan umpan balik dari orang lain
9. Sense of humour, humor menjadi sesuatu yang penting sebagai mekanisme coping dan relationship building, selain itu humor bisa menjadi cara untuk memecahkan kekakuan, untuk lebih menetapkan hubungan dengan orang dan meminimalisir isu yang terjadi.

Kesemua hal itu akan menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk selalu meningkatkan potensinya guna merengkuh peran dan posisi ideal yang diharapkan nanti saat mereka menjadi produk dari sebuah perguruan tinggi yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Lebih jauh lagi hal inipun akan menjadi tantangan bagi seluruh civitas academica Perguruan Tinggi untuk memberikan lahan pada mahasiswa guna mencapai hierarki kompetensi ideal yang dibutuhkan nantinya dalam realitas yang penuh kompetisi dengan jutaan produk perguruan tinggi lainnya di seluruh dunia ini. Semoga segala hal yang diungkapkan dalam tulisan ini bisa memacu semua pihak, utamanya mahasiswa untuk mengisi hari-harinya dengan sikap dan perilaku ilmiah yang lebih baik.

Kajian Pustaka

Armstrong, Michael. 2000. The Art of HRD : Human Resource Management. Crest Publishing House. New Delhi.

Armstrong, Michael. 2000. The Art of HRD : Managing People. Crest Publishing House. New Delhi.

Hughes,Richard L., Ginnett, Robert C., Curphy, Gordon J. 1999. Mc Graw-Hill Book Co. Singapore.

Nankervis,Alan R., Compton, Robert L., McCarthy,Terence E. 1996. Strategic Human Resource Management. An International Thompson Publishing Company. South Melbourne.

Philips,Jack J & Drewstone,Ron. 2002. How to Measure Training Results. McGraw-Hill. New York.

Schneider,Susan C. & Barsoux, Jean-Louis. 2003. Managing Across Cultures. Prentice Hall. England.

Smither, Robert D. 1994. The Psychology of Work and Human Performance. Harper Collins College Publishers. New York.

Spencer, Lyle M. 1993. Competence at Work : Models for Superior Performance. John Wiley & Sons,Inc. Canada.

Koentjoro. 2005. Meningkatkan Motivasi dan Pemahaman Diri. Makalah Pelatihan. Forest.

0 comments:

Post a Comment